Di usia yang masih sangat belia, dua anak perempuan ini telah dipaksa oleh keadaan untuk menelan kerasnya dunia. Badai perceraian telah menghancurkan rumah masa kecil mereka. Sang ayah melangkah pergi tanpa meninggalkan jejak, menutup rapat-rapat pintu komunikasi yang tersisa. Sementara sang ibu terpisah jarak yang teramat jauh di perantauan, berjuang di tengah keterbatasan hidup yang mencekik pascaperpisahan dan kini telah membangun lembaran baru dengan berkeluarga kembali. Sepahit yang bisa mereka rekam, sejak masih kecil mereka sudah tumbuh tanpa tahu rasanya didekap hangat oleh ayah dan ibu di bawah satu atap yang sama.
Namun, di tengah puing-puing kehidupan yang sunyi dan ruang tunggu nasib yang serbaterbatas ini, sepasang kakak beradik ini menolak untuk hancur. Mereka justru menemukan sebuah jangkar penyelamat; sebuah jalan spiritual yang merajut kembali tali batin yang sempat koyak bersama sang ibu.
Di Antara Dongeng Beras yang Menipis
Nisa dan Rara lahir dari keluarga non-Muslim. Ketika sang ibu memutuskan untuk memeluk agama Islam terlebih dahulu di tanah perantauan, sebuah getaran kerinduan yang hebat menembus sekat jarak menuju hati kedua putrinya. Didorong oleh rasa cinta yang mendalam dan keinginan bawah sadar untuk selalu "dekat" dengan sang ibu, Nisa memantapkan langkahnya menjadi seorang mualaf, yang kemudian diikuti dengan polos oleh Rara. Bagi mereka, memeluk keyakinan yang sama dengan sang ibu adalah cara terbaik untuk melayurkan rasa rindu yang tak bertepi.
Sang ibu, dari tempatnya yang jauh, tak pernah benar-benar melupakan darah dagingnya. Di tengah tanggung jawab barunya bersama keluarga yang baru, sang ibu tetap mengusahakan sekuat tenaga untuk mengirimkan sedikit uang ke kampung halaman. Uang itu dikirim untuk menyambung hidup; untuk membeli beberapa liter beras agar dapur tempat mereka menumpang tetap mengepul, serta menyisipkan sedikit uang jajan untuk kedua buah hatinya.
Namun, roda nasib sering kali berputar lambat dan penuh keterbatasan. Kiriman itu datangnya tidak menentu. Ada hari-hari panjang di mana tempat penyimpanan beras di rumah benar-benar kosong, meninggalkan Nisa dan Rara dalam penantian panjang dengan menahan lapar.
"Dari Ayah sudah lama sekali tidak ada komunikasi, kami tidak tahu kabar Ayah di mana," bisik Nisa, suaranya bergetar lirih dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Kalau tidak ada uang jajan, kami diam saja di dalam kelas, om. Tapi Ibu suka kirim duit kalau ada, buat beli beras sama jajan kami. Itupun kadang-kadang saja datangnya. Makanya kami ikut Islam seperti Ibu, biar kalau salat, kami bisa doakan Ibu agar banyak rezeki, sehat, dan hubungannya baik."
Senyum Bimbang di Balik Trauma Ditinggalkan
Runtuhnya fondasi keluarga di usia sedini itu meninggalkan bekas luka yang tak kasatmata namun teramat dalam di batin Nisa dan Rara. Ketika beberapa orang dari lingkungan sekitar atau kerabat datang berkunjung dan menawarkan diri untuk merawat serta mengasuh mereka, kedua bocah perempuan ini tidak serta-merta mengiyakan.
Alih-alih menyambutnya dengan binar bahagia, Nisa dan Rara justru kompak memberikan respons yang mengiris hati siapapun yang melihatnya: sebuah senyuman tipis yang getir. Senyuman yang seolah menyiratkan rasa takut, kebimbangan yang besar, sekaligus penolakan halus. Di balik senyum bocah sekecil itu, ada trauma mendalam yang sedang berbicara. Mengetahui ayah mereka telah hilang kabar dan ibu mereka sudah memiliki kehidupan baru, mereka tumbuh dengan perasaan takut menjadi beban bagi orang lain. Mereka khawatir bahwa menerima orang baru berarti membuka peluang untuk kembali dikecewakan dan ditinggalkan untuk kesekian kalinya. Bagi mereka, satu-satunya tempat aman yang tersisa di dunia ini hanyalah ketika mereka saling menggenggam berdua.
Di sinilah letak ketegaran yang mengiris hati dari seorang Nisa. Di usianya yang baru sebelas tahun, ia telah menjelma menjadi sosok 'ibu' bagi adik perempuannya. Saat malam pelan-pelan mendingin dan rasa lapar kembali menyapa, Nisa akan mengambil selembar mukena putih titipan sang ibu yang kainnya mulai menipis. Dengan penuh kasih sayang, tangan kecilnya membetulkan posisi mukena yang tampak begitu longgar dan kebesaran di tubuh mungil Rara. Di atas sajadah tipis, di bawah temaram lampu rumah, Nisa membimbing adiknya mengeja huruf-huruf hijaiyah satu demi satu dengan sabar.
Bagi mereka, saat-saat memakai mukena dan bersujud adalah momen paling magis. Di dalam balutan kain putih kebesaran itu, mereka merasa sedang didekap erat oleh ibunya tanpa harus mengganggu kehidupan baru sang ibu di sana. Rasa lapar yang menyiksa dan rasa sakit karena ditinggalkan seketika luruh berganti kedamaian yang sejuk. Mereka tidak lagi menangis meratapi nasib; mereka mengalirkan seluruh air mata itu menjadi kekuatan di atas sajadah. Setelah salam terakhir, kedua anak perempuan ini selalu berpelukan erat, saling menguatkan dalam diam bahwa mereka akan aman selama mereka bersama.
Menembus Langit dengan Doa yang Sama
Keteguhan iman dua bocah mualaf ini perlahan mengetuk hati lingkungan sekitar. Komunitas Muslim dan tetangga setempat yang iba melihat kondisi mereka mulai mengulurkan tangan, memberikan perhatian, perlindungan, serta bantuan pangan seadanya agar kedua anak perempuan ini tidak kelaparan di malam hari.
Sore harinya, dengan jilbab yang bersih meski warnanya mulai memudar akibat sering dicuci, Nisa kembali menggandeng tangan kecil Rara berjalan menuju TPA (Taman Pendidikan Al-Qur'an). Mereka melangkah dengan kepala tegak. Di tempat itu, di antara lantunan ayat suci yang dibaca beramai-ramai, duka mereka menguap berganti harapan.
Kisah dua anak perempuan ini adalah sebuah tamparan keras bagi dunia orang dewasa. Mereka adalah korban dari sebuah perpisahan, namun mereka memilih tumbuh menjadi santri cilik yang taat dan tangguh. Jarak yang membentang, kemiskinan yang mencekik, dan kenyataan bahwa orang tua mereka telah melangkah masing-masing, terbukti gagal memutus ikatan batin antara ibu dan anak.
Di setiap penghujung salat, di dalam hati mereka yang paling suci, Nisa dan Rara selalu melangitkan doa yang sama. Sebuah bisikan lirih dari jiwa-jiwa cilik yang terluka, menembus pekatnya malam, memohon agar Tuhan meluaskan rezeki sang ibu di perantauan agar beras di rumah tak lagi habis, serta melimpahkan kebahagiaan di rumah baru ibunya. Mereka terus mengetuk pintu langit, menanti dengan sabar di balik mukena titipan, percaya bahwa sejauh apa pun dunia memisahkan mereka, doa di atas sajadah akan selalu mempertemukan mereka pada cinta yang sama.
