Menurut Zulkifli, pendidikan memiliki peran sentral sebagai nutrisi bagi pola pikir SDM, terutama bagi generasi muda yang ingin terjun ke dunia agrobisnis.
"Jika tanah membutuhkan nutrisi tepat untuk menghasilkan panen melimpah, maka manusia membutuhkan pendidikan untuk menghasilkan inovasi. Pendidikan adalah pupuk terbaik bagi SDM kita agar mampu bertransformasi menjadi agropreneur yang mandiri dan melek teknologi," ujar Zulkifli.
Ia menjelaskan bahwa tantangan petani saat ini bukan hanya soal mengolah lahan, melainkan bagaimana memahami teknis modern seperti stabilisasi pH tanah, penggunaan formula nutrisi tanaman yang efisien, hingga manajemen literasi digital untuk menembus pasar yang lebih luas.
"Kita di HIPMI terus mendorong agar pendidikan teknis dan kewirausahaan masuk ke lini-lini produktif di desa. Kita tidak ingin petani kita hanya menjadi penonton di tengah kemajuan teknologi. Dengan edukasi yang tepat, mereka bisa mengelola dari hulu ke hilir," tambahnya.
Zulkifli juga menyoroti pentingnya peran media sebagai jembatan informasi edukatif. Melalui jaringan media digital yang ia kelola, ia berkomitmen untuk terus menyebarkan konten yang mampu mencerdaskan masyarakat tani di Gorontalo.
"Sinergi antara pengusaha, pemerintah, dan akademisi melalui jalur pendidikan akan memastikan bonus demografi kita benar-benar menjadi berkah, bukan beban. Masa depan pertanian kita ada di tangan mereka yang mau terus belajar," pungkasnya.
Pernyataan ini diharapkan menjadi stimulus bagi para pengusaha muda dan praktisi pertanian di Gorontalo untuk terus mengedepankan riset dan edukasi dalam setiap aktivitas bisnis mereka.
