| Alia Nusantara Net
Alia Nusantara Net
× Selamat Hari Buruh Alia Agro

26 Ribu Anak Putus Sekolah, Indonesia Emas 2045 Dipastikan Gagal di Gorontalo



GORONTALO – Visi besar Indonesia Emas 2045 terancam menjadi sekadar isapan jempol di Provinsi Gorontalo. Hal ini ditegaskan oleh Barisan Pemuda Nusantara (BAPERA) menyusul temuan data yang menyebutkan sebanyak 26.000 anak di wilayah tersebut kini berstatus Anak Tidak Sekolah (ATS).


Ketua BAPERA Bone Bolango Provinsi Gorontalo, Zulkifli Ibrahim, menyatakan bahwa dengan angka putus sekolah yang mencapai 10 persen dari total populasi usia sekolah, Gorontalo dipastikan akan gagal menyambut bonus demografi. Ia menilai pemerintah daerah terlalu terlena dengan angka-angka pertumbuhan ekonomi yang tidak menyentuh realitas pendidikan.


"Bagaimana mungkin kita bicara Indonesia Emas 2045 kalau hari ini ada 26 ribu calon pemimpin masa depan kita yang terpaksa berhenti sekolah? Dengan angka sebesar ini, Gorontalo justru sedang berjalan menuju 'Bencana Demografi'. Visi 2045 dipastikan gagal di daerah ini jika pemerintah tidak segera sadar dari tidurnya," ujar Zulkifli Ibrahim dengan nada tegas, Jumat (8/5/2026).


Zulkifli juga menyoroti stagnasi Rata-rata Lama Sekolah (RLS) di Gorontalo yang masih bertahan di angka 8,2 tahun. Menurutnya, mustahil menciptakan sumber daya manusia yang kompetitif di masa depan jika standar pendidikan rata-rata masyarakatnya bahkan tidak menamatkan jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).


Kritik pedas ini dialamatkan kepada pemerintah provinsi hingga kabupaten/kota yang dianggap lebih memprioritaskan proyek seremonial dan fisik daripada intervensi langsung terhadap anak-anak yang putus sekolah akibat himpitan ekonomi di pelosok desa.


"Tiap tahun kita dengar anggaran pendidikan 20 persen, tapi hasilnya mana? Anak-anak di desa masih harus bertarung antara buku dan cangkul karena biaya transportasi dan perlengkapan sekolah yang tidak terjangkau. Ini adalah kegagalan sistemik yang harus segera dipertanggungjawabkan," tambahnya.


BAPERA mendesak pemerintah untuk segera melakukan langkah darurat dengan memverifikasi data di setiap dusun dan memastikan anggaran pendidikan benar-benar menyasar siswa miskin secara tepat guna. Jika tidak ada perubahan radikal, BAPERA khawatir Gorontalo hanya akan menjadi penonton dalam kemajuan nasional dua dekade mendatang.